Chat with us, powered by LiveChat

Melintasi Tol Trans Jawa, Ada Bubur Suweg Menanti di Exit Tol Ungaran

Manjakan selera pengguna jalan tol Trans Jawa sebuah festival kuliner digelar. Kali ini di pintu keluar tol Ungaran, Jawa Tengah.

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) melakukan promosi ekonomi kreatif di sekitar tol Trans Jawa. Salah satu agenda promosi itu adalah Festival Kuliner Tradisional yang terselenggara di Exit Tol Alun-Alun Bung Karno Ungaran, Kabupaten Semarang.

Rencananya agenda tersebut akan berlangsung mulai hari ini, Jumat (15/3/2019) hingga Minggu (17/3/2019). Dalam agenda itu berbagai kuliner tradisional khas Ungaran disajikan di stand-stand yang terbuat dari bambu mirip lapak pedagang pasar tempo dulu.

Sriyatun, salah satu pengelola stand penjual makanan tradisional mengaku senang dengan adanya agenda itu. Bersama anaknya, ia membuka stand yang menjajakan Bubur Suweg. Sebagai catatan, Suweg adalah sejenis umbi-umbian yang biasa tumbuh di dataran tinggi.

“Bubur Suweg ini khas Desa Indrakila, cuma ada di desa saya bubur ini. Kalau biasanya pakai candil, bubur ini pakai suweg,” ungkap Sriyatun kepada detikFood, Jumat (15/3/2019). Ia membawa sepanci besar bubur suweg dari rumah. Hingga sore tadi, dagangan Sriyatun sudah hampir habis.

Beruntung detikFood sempat mencicipi bubur suweg buatan Sriyatun. Manis dan gurih rasanya. Bubur berwarna cokelat itu begitu lumer di lidah. Seporsi bubur yang tersaji dalam mangkuk tanah liat itu dijual seharga Rp 5 ribu.

“Panci saya ini ukuran 30 liter, sekarang sudah hampir habis. Tidak semua suweg bisa diolah, harus yang matang, tandanya pohon suweg yang sudah mati itu menandai suweg yang di dalam tanah sudah matang dan siap dipanen. Sebab salah memilih suweg dan keliru mengolah, pasti gatal di tenggorokan saat dimakan,” tandas Sriyatun.

Ditemui di lokasi acara, Singgih Kartono, selaku konseptor Festival Kuliner Ungaran mengakui potensi di Kabupaten Semarang cukup besar untuk dikembangkan. Hal itu ia buktikan dengan keberhasilan menggandeng komunitas pengusaha kuliner, perajin kesenian dan petani lokal di Kabupaten Semarang.

“Kegiatan ini terwujud karena upaya kreatif dan kolaboratif antara kami, Spedagi Movement bersama masyarakat. Kami percaya originalitas itu lahir dari lokalitas. Oleh sebab itu, hari ini kami sediakan enam puluh stand kuliner, kerajinan dan hasil pertanian semuanya penuh dan ramai pengunjung,” ujar Singgih.

Keahlian Singgih dalam mengonsep agenda serupa memang sudah teruji. Pria yang berasal dari Temanggung itu merupakan konseptor Pasar Papringan, pasar jajanan tradisional yang rutin digelar tiap hari Minggu pagi di Desa Ngadiprono, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung.

“Kabupaten Semarang mempunyai potensi yang lebih besar dari Temanggung. Oleh sebab itu kami berharap kegiatan ini mampu menjadi pemicu stakeholder setempat untuk lebih getol menggelar kegiatan yang bersemangat lokalitas,” jelas Singgih.

“Kemajuan lokal (Desa) itu jangan dibandingkan dengan budaya perkotaan atau bahkan luar negeri. Mari kita menjadi diri sendiri, misal dalam menulis informasi gunakan tulisan tangan, kurangi penggunaan spanduk MMT. Sebab selain ramah lingkungan, segala sesuatu yang natural itu unik dan menarik,” imbuhnya.

Dari pantauan detikFood, beraneka ragam makanan khas Kabupaten Semarang tersaji di berbagai stand. Mulai dari Srabi Ngampin, Pecel Semanggi, Kopi Sirap Gunung Kelir, Pecel Wader khas Banyubiru, Nasi Goreng Jagung khas Jambu hingga Tahu Serasi Bandungan.

Soal harga, panitia sudah menentukan maksimum harga penjualan. Demikian juga dengan lokasi santap pengunjung, panitia menyediakan meja makan lengkap dengan kursi bambu, meja-meja itu tersebar di dalam ruangan dan di bagian halaman joglo Alun-Alun Bung Karno.

“Semua penjual tidak boleh menaikkan harga tinggi. Semua dijual sesuai harga pasar, kami sudah atur itu. Ya harapan kami biar orang yang datang itu nantinya akan pulang membawa kenangan membahagiakan,” tandas Singgih.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *